Tak Ada Yang Peduli

Lain Lubuk Lain Ikannya, Lain suku lain pula budayanya. Yah,.. begitulah adanya. Indonesia memang berbeda dengan negara lain. Kami disini hidup dengan banyak sekali keanekaragaman (budaya, agama, tempat tinggal, suku, dll). Alangkah indahnya bila tiap orang bisa menghargai segala perbedaan itu, saling menghormati satu dengan yang lain.

Ini pengalamanku (Mohon dibaca dengan kepala dingin). Ada satu suku yang tak ku sukai. Asal orangtuaku dari minang, orangtuaku (termasuk aku) tak begitu suka dengan orang medan. Alasannya (menurutku): orang medan tu lantang suaranya (seperti orang yang marah-marah), suka minum-minum, kalau sudah minum pasti buat gaduh, belum lagi mereka bandel-bandel, pokoknya semua sifat yang tidak aku sukai banyak terdapat dalam diri mereka (red-medan). Tapi pikiran itu berubah ketika aku tak sengaja berkenalan dengan orang medan. Awalnya aku enggan menanggapi dia, tapi setelah seringnya kami bertukar pendapat, pandanganku mulai berubah. Dia tak bicara dengan nada tinggi denganku,dia bisa menghargaiku (walaupun dia kurang suka dengan orang minang). Jarak kami berjauhan, dia kebetulan tinggal di perbatasan SB-SM (masih masuk wilayah SB) dan aku di kota J. Kami banyak berkomunikasi lewat handphone dan Ibu tak suka dengan kebiasaan baru ku itu, begitu juga dengan adik2ku.

Akhirnya dia datang ke kotaku. Dengan membawa sebuah harapan agar hubungan ini bisa dibawa ke jenjang yang lebih serius lagi. Apalagi waktu itu adikku baru saja menikah. Dan aku ingin membuktikan pada saudara-saudara ayahku bahwa aku pun punya “orang dekat”dan tidak iri dengan pernikahan adikku (aku menangis karna perlakuan adik yang dingin dan sikap ibu yang sering marah-marah padaku saat itu).

Ternyata kehadiran abang membuat orangtuaku kecewa. Penampilannya berantakan dengan rambut yang agak panjang plus berwarna pirang dengan pakaian yang kurang rapi, beda sekali dengan ketika pertama kali aku berjumpa dengannya di loket bus. Aku juga kecewa, sempat tak mau menemuinya, ibu malah menangis. Perasaanku campur aduk saat itu. Dan abang sadar kehadirannya tidak disukai oleh orangtuaku. 2 hari kemudian abang pulang lagi ke kampung halamannya dengan perasaan kecewa. Tapi hubungan kami masih berlanjut. Aku menyesal, kenapa semua kekecewaan dan ketidaksukaan orangtuaku terhadap abang malah ku sampaikan ke abang. Abang sempat menghindariku, tapi alhamdulillah setelah itu kami baikan lagi. Sempat beberapa kali abang mengajak kawin lari, tapi selalu ku tolak. Aku ingin kami menikah dengan cara baik-baik, kalau kuturuti keinginan abang, pasti ayah dan ibuku makin benci sama orang medan. Aku ingin dinikahkan sendiri dengan ayah kandungku.

Berat sekali cobaan ini. Tapi slalu ku ingatkan abang untuk slalu sabar. Ada beberapa kali aku bicara kepada Ibu tentang keinginan kami untuk menikah. Awalnya ibu tak setuju, “Mau hidup dengan apa kalian?! dua-duanya belum punya kerja”, begitu jawab Ibu. Akhirnya aku bicara dengan abang supaya kami sama-sama cari kerja. Abang sempat buka usaha, tapi usaha itu tutup karna kekurangan dana. Ada yang menggangu hubungan kami. Tapi akhirnya laki-laki itu mundur juga. Kemudian abang kerja bangunan, alhamdulillah bang.. yang penting kerjaan itu halal. Jangan malu sama adek ya! Aku juga diterima kerja di kebun sawit. Sayangnya usaha kami berdua di uji lagi. Menjelang Bulan Puasa abang berhenti kerja, aku pun diberhentikan karna perusahaan itu pailit usai Lebaran Idul Fitri kemarin. Dua-duanya nganggur lagi.

Kemudian datang lagi cobaan. Bapak tak suka liat aku malas-malasan di rumah. Aku memang menjadi malas karna beratnya beban pikiran ini. Apalagi kami sama-sama nganggur. Ntah berapa kali bapak membentakku karena tak tahan melihat kemalasanku. Dan sekali, karena bosan dibentak-bentak, aku ngomel-ngomel sendiri, eh kedengaran sama Bapak. Habislah kena marah Bapak saat itu. Trus ditanya sama Bapak, “Mau Wiwi tu apa?! Kalau ada masalah cerita sama Bapak! Jangan diam-diam terus di kamar!” Gitu kata Bapak. Makin berang Bapak ketika ku sampaikan maksud hati ini. “Mau Kawin kau dengan pemabuk tu?! Tau dak kau dio tu pemabuk”. Ku jawab “Iyo Pak, tapi itu dulu, sekarang dio dak kayakgitu lagi”. “Ah, Bohong bae tu, orang kalau lah minum dak kan biso lepas dari minuman tu, tau dak?”, “Kalau lah minum-minum gawenya mainin cewek, tak dak?”, “Aku dak mau anak aku dimainin samo pemabuk macam dio!!”, ucap ayahku lagi. Aku diam saja setelah mendengar ucapan ayah. “Lolo nian kau ni! Awak berjilbab tapi suko samo pemabuk kayak dio”, lanjut ayah lagi. “Mau bae dirayu samo orang kayakgitu!”. Puas aku nangis hari itu.

Ku sampaikan kejadian hari itu dengan abang. “Abang dak mau adek dimarahi terus gara-gara abang”, ucap abang dengan perasaan kecewa. “Jadi kayakmana lagi dek?! Mau dak adek kawin lari dengan abang?”. Waktu itu ku iya kan pertanyaan abang. Tapi,… setelah ku pikir-pikir lagi, tak baik kami menikah dengan cara seperti itu. Aku tak mau gara-gara kawin lari ini, orangtuaku (khususnya ayah) makin benci sama orang medan. Aku juga tak mau abang ditangkap polisi gara-gara melarikan anak gadis orang. Akhirnya ku urungkan juga niat tak baikku ini. Abang hanya diam saja.

Aku mencari jalan lain. Satu-satunya cara ya dengan mengikuti tes CPNS di SB. Alhamdulillah akhir tahun kemarin namaku masuk daftar peserta ujian dan aku lolos ujian tahap pertama (masih ada satu tahap ujian lagi). Aku bersyukur sekali saat itu, ku sampaikan rasa syukur itu dengan abang. Tapi kebahagiaan itu hanya sesaat. Malam harinya aku mendapat kabar kalau abang punya pacar di sana. Hancccuuurrrr sekali hatiku, karena tak bisa menahan emosi, malam itu aku menangis di pangkuan Ibu. Padahal 2 hari lagi aku harus kembali lagi ke SB untuk mengikuti ujian tahap 2. Dan aku tak semangat lagi dengan ujianku yang ke-2 ini. Alhasil, tak konsentrasi menjawab soal ujian. Ya sudahlah, mungkin belum saatnya.

Sudah 4 bulan sejak kejadian itu, berkali-kali ku coba melupakan dia, tapi susah juga rupanya. Susah juga mengikhlaskan dia untuk perempuan lain. Alhamdulillah sekarang “sakit” itu mulai berkurang. Aku sudah bisa menerima keadaan bahwa mungkin lebih baik seperti ini. Kasihan juga abang (kalau kami sampai menikah), keluargaku pasti berat menerima kehadirannya. Tak apa-apa bang, adek sudah memaafkan abang. Knapa abang masih ngotot untuk menikahi adek? Abang kan sudah memiliki perempuan lain, abang bisa berjumpa dengan dia. Mudah-mudah kalian berjodoh dan bisa berlanjut ke pelaminan. Do’akan adek juga ya, supaya bisa menemukan pengganti abang, adek pun tak ingin lama-lama seperti ini, adek juga ingin berkeluarga. Melanjutkan cita-cita kita dulu yang tak sampai.

Aku tahu, kedua suku ini bertolak belakang. Abang tak suka dengan orang minang, aku pun tak suka dengan orang medan. Tapi rasa sayanglah yang menyatukan perbedaan ini. Salahkah bila kami saling menyayangi?! Walau akhirnya jadi begini, walau cita-cita kami berdua tak sampai, tapi aku tak pernah menyesal pernah berkenalan dengannya. Mudah-mudahan anak cucu kita nanti ada yang “seperti kita”, mudah-mudahan di jaman mereka nanti perbedaan suku ini tak lagi menjadi masalah. Tak ada salahnya kan dua suku yang berlainan berbaur? Jangan jadikan perbedaan itu sebagai pemisah, tapi jadikanlah perbedaan itu sebagai pemersatu bangsa.

Maaf jika tulisan ini terlalu berlebihan, maaf jika ada yang merasa tersinggung, maaf jika gaya bahasanya terlalu kaku dan berlebihan.
Kesempurnaan itu hanya milik Allah,..

Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pertimbangan buat mereka yang sedang menghadapi masalah yang sama. Jangan berputus asa, apalagi sampai bunuh diri. Dekatkan diri dengan sang Pencipta, Cari kesibukan. Mudah-mudahan masalah ini bisa diatasi. Smangat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: